Website Resmi Grandmaster Utut Adianto

Anggota dewan perwakilan rakyat  Komisi X,
dari fraksi PDI Perjuangan

<iframe width="420" height="300" src="https://www.youtube.com/watch?v=ugxyQUl8JO8"> </iframe>


Sungguh membanggakan. Anak Indonesia itu akhirnya berhasil membuktikan betul-betul layak menyandang gelar terhormat grandmaster super dalam bidang catur.

GM Utut Adianto Jumat (28/7) malam kembali mendapatkan setengah angka dari permainan remis melawan GM Vadim Zvjaginsev, satelah bertarung 36 langkah dalam babak keenam tumamen catur Biel Mater invitation, Swiss. Dengan hasil ini, berarti Utut telah mengantungi empat angka, dan untuk sementara menduduki peringkat kedua.

Bagi kalangan pecatur profesional, pencapaian Utut ini dapat dikatakan luar biasa. Masalahnya, baru kali inilah ia bertarung dalam turnamen berkategori 15, dengan rata-rata elo rating peserta lebih dari 2.600, yang berani lebih dari separuh pesertanya adalah para penyandang gelar grandmaster super.

Terlebih lagi, rasanya juga pantas untuk dikemukakan bahwa dalam umumnya turnamen super semacam ini, adalah sudah cukup hebat untuk mendapatkan 50 persen angka. Bahkan, kerap sekali terjadi, dalam turnamen kelas tinggi semacam ini, sang juara ternyata hanya mandapatkan angka sekitar 65 persen, karena banyaknya pertarungan berat yang berakhir seimbang.

Padahal, dari enam babak yang telah lewat, Utut telah mengantungi empat angka, atau 66 persen. la juga tiga kali berurutan berhasil merebut angka penuh, dengan dua diantaranya dari lawan maha tangguh, GM Jan Timman dan GM Boris Gelfand. Suatu gebrakan yang spektakuler untuk pertarungan kelas tinggi seperti ini. Dan rasanya, setidaknya, hampir dapat dipastikan ia akan mampu melewati enam angka penuh untuk mempertahankan gelar terhormat grandmaster super itu. Alasannya, dari tujuh babak yang tersisa, ia hanya membutuhkan dua angka lagi. Di samping itu, diantara lima batu paling keras dalam turnamen ini, ia tinggal menghadapi GM Alexei Dreev dan Alexei Shirov.

Dibanding kemenangannya melawan Timman, yang mantan penantang dunia FIDE tahun lalu, ataupun Gelfand yang di samping pernah menjadi semifinalis juga memiliki peringkat ranking ketujuh dunia, mendapatkan setengah angka dari Zvjaginsev sepertinya tak terlalu mengejutkan. Akan tetapi, sesungguhnya ada hal sangat penting yang perlu dicatat.

Sehari sebelum pertarungan, Utut sudah memperkirakan lawannya yang muda itu akan melangkahkan bidak d4, dengan harapan Utut akan kembaii memakai pebelaan Hindia Nimzo, yang dipakainya mengalahk Timman. Utut mengatakan ia akan menghindari pengulangan ini. Disamping karena yakin partainya telah dianalisis dan kemungkinan penangkal langkah kuncinya telah diketemukan, ia juga telah menganalisis partai-partai Zvjaginsev dalam rumpun ini sebelumnya, yang disebutnya sangat tajam dan berbahaya. Dan semua yang diramalkan itu betul-betul terjadi.

Seperti diketahui, dewasa ini catur tak lagi sekedar permainan yang mengandalkan kecerdasan semata. Permainan ini berkembang menjadi sangat scientific, sangat 'ilmiah'. Pada turnamen puncak seperti ini, sulit terjadi seorang pemain bisa menang tanpa mempersiapkan lebih dahulu. Jauh sebelum menghadapi sebuah turnamen, seorang pemain harus lebih dahulu mempersiapkan jawaban terhadap langkah-langkah kunci yang membuat calon-calon lawannya berhasil memenangkan sebuah partai dalam turnamen-turnamen sebelumnya. Seperti para pendekar dalam dongeng-dongeng silat, pertempuran teoritik sudah dimulai dalam kesendirian analisis, jauh sebelum lawan sungguh dihadapi.

Kecenderungan semacam ini semakin menjadi-jadi dengan semakin banyaknya program catur yang dapat mengolah bank data catur, memberikan saran, serta berbagai alternatif memecahkan persoalan. Akan tetapi hakekat persoalannya tetap sama. Tak dimungkinkan lagi sekedar mengandalkan kecerdasan, terlebih lagi kebetulan atau kemujuran. Semua harus dipersiapkan. Proses belajar terus menerus menjadi penting. Tak dimungkinkan lagi pendekar 'tangan kosong'.

DALAM sebuah percakapan dengan Drs. Henry Djamal, yang dengan Jayakarta Muda-nya kita kenal sebagai salah seorang perintis sekolah catur anak, justru dalam hal semacam inilah kebanyakan pecatur kita payah. "PR (pekerjaan rumah) mereka sering tidak dikerjakan," begitu istilahnya bagi para pecatur yang berangkat ke turnamen tanpa persiapan.

Hal itu dikatakannya seraya menceritakan betapa mengubah sikap untuk selalu mempersiapkan diri lebih dahulu, dengan terus memberi beban PR untuk dianalisis, adalah hal yang ditekankan kepada anak didiknya sejak dini. Dan hal itu ternyata tetap tidak mudah.

Barangkali, keadaan semacam ini tidak mengherankan benar. Dalam masyarakat kita, tampaknya, kecenderungan spontanitas, improvisasi, tanpa persiapan, tanpa perencanaan, bagaimana nanti saja, atau bahkan untung-untungan, merupakan hal yang sehari-hari.

Di jalan raya, kita kerap menyaksikan mobil yang begitu macet langsung mengambil jalur seberang atau jalur tanah di kiri jalan, tanpa berpikir bagaimana nanti masuk ke jalur kembali, ataupun jika berhadangan dengan mobil di jalur seberang. Kita juga kerap membaca pejabat yang ketika ditanya sesuatu langsung langsung berkomentar, dan lalu diralat kemudian, atau bahkan tak mengaku berbicara seperti itu. Di televisi atau di koran kita juga sering melihat wawancara yang terasa dangkal karena wartawannya tak mengerjakan PR-nya, yakni membaca lebih dahulu seluk beluk orang yang diwawancarai atau persoalan yang dibahas. Para pengusaha yang tembak lari. Developer gadungan yang sudah mulai menjual padahal izin pembebasannya tanahnya saja belum ada. Mahasiswa yang hanya belajar kalau mau ujian, atau bahkan untung-untungan tebak kancing sekalian. belum lagi jalan yang berulang kali digali sesuai kebutuhan masing-masing jawatan sendiri.

Memang, sikap menghargai proses, mempelajari dulu, mempersiapkan, ataupun merencanakan lebih dahulu secara seksama dan terpadu, belum tampak sebagai keseharian kita. Padahal, tidakkah kecenderungan sikap-sikap semacam ini merupakan landasan kultural bagi kehidupan dan kebudayaan modern tempat kita hidup dewasa ini?

Oleh karena itu, dalam sangkut-paut dengan pemahaan dan upaya perbaikan kecenderungan semacam ini, rangkaian kemenanga Utut yang sangatlah jelas lebih mengandalkan periapan dan perencanaan yang matang dibanding sekedar kecerdasan itu sungguh sangat perlu kita hargai. Setidaknya, hal itu membuktikan, jika mau dan bersungguh-sungguh, ternyata kita juga mampu merombak sikap dan gaya hidup yang tidak sejalan lagi dengan alam pikiran modern tersebut.


Sumber: Artikel Kompas Juli, 1995

 

Mari Berjuang

Demi Rakyat

Berjuang untuk kesejahteraan rakyat, menjadi enyambung lidah suara rakyat

Menuju GM

Catur

Histori permainan Utut Adianto menuju Grandmaster kami rangkum dalam timeline games

LIHAT TIMELINE >>

In The

Press

Kliping berita mengenai Grandmaster Utut Adianto, baik di dalam media cetak maupun online.

SELENGKAPNYA >>