Website Resmi Grandmaster Utut Adianto

Anggota dewan perwakilan rakyat  Komisi X,
dari fraksi PDI Perjuangan

<iframe width="420" height="300" src="https://www.youtube.com/watch?v=ugxyQUl8JO8"> </iframe>

 

SEBUAH keberhasilan selalu melegakan. Itu yang dirasakan ketika Utut Adianto (30) berhasil menjadi juara Zona 3.2 di Genting Highland, Malaysia. Keberhasilan ini membuat Utut orang Indonesia pertama yang tampil sebagai kandidat dalam kejuaraan dunia catur, yang jumlahnya hanya 16 orang. Dan dengan hasil ini, Elo Rating-nya (suatu cara penghitungan tertentu untuk menentukan peringkat seseorang di kalangan pemain-pemain catur dunia) naik menjadi 2.600. lni berarti Utut juga orang Indonesia pertama yang mencapai nilai sedemikian tinggi itu. Dengan Elo Rating sebesar itu, diperkirakan sekarang Utut sudah masuk peringkat 60 besar dunia. Mereka ini masuk suatu kelas super elite tersendiri dalam olahraga catur. Di Asia saja, selain Utut hanya dua pecatur lain yang memiliki Elo Rating di atas 2.600.

Dengan masuknya kelas super elite ini, maka Utut diperkirakan bisa hidup dari olahraga yang ditekuninya sejak usia delapan tahun. Bulan Agustus dan September mendatang saja, ia sudah mendapat undangan dari dua turnamen sangat bergengsi di Biel, Swiss, dan lnterpolis Tilburg, Belanda. Tumamen di Biel itu masuk Kategori 14, artinya hanya diikuti oleh pecatur dengan Elo Rating 2.600 ke atas. Dan tumamen Biel itu hanya diikuti oieh 14 pecatur.

Posisi dan prestasi semacam ini mungkin menyamai apa yang sekarang tengah dijalani oleh petenis kita Yayuk Basuki: berhak masuk turnamen kelas grandslam tanpa harus ikut kualifikasi terlebih dahulu.  Maka, seperti juga Yayuk, bisa diperkirakan bahwa hari-hari Utut akan dijalani dari tumamen satu ke tumamen lain, menang-kalah, jatuh-bangun, naik-turun peringkat kalau tidak awas dan pandai-pandai mengatur siasat dan manajemen pribadinya.

PERBANDINGAN Yayuk dan Utut ini mungkin pada tempatnya, karena dua olahragawan ini yang sekarang berkiprah sungguh-sungguh di kancah persaingan keras internasional. Dengan sengaja tak dilakukan perbandingan dengan olahragawan bulu tangkis kita yang prestasinya jauh lebih tinggi. Alasannya, pertama karena bulu tangkis punya tradisi juara yang sudah cukup panjang. Kedua, karena bulu tangkis mendapat dukungan sangat kuat dari pihak resmi maupun tidak. Ketiga, cakupan wiiayah persaingan dalam catur dan tenis jauh lebih luas dibanding bulu tangkis yang boleh dikata hanya terjadi antar beberapa negara saja.

Celakanya, keberhasilan mereka ini belum juga membuka mata para pembina olahraga akan apa yang seharusnya dilakukan. Keberhasilan itu tidak segera diikuti dengan pembenahan sistem latihan dan manajemen tenis dan catur, yang sudah membuktikan bahwa orang  Indonesia mampu bersaing ditingkat paling tinggi, sementara banyak dana terbuang percuma untuk jenis olahraga yang sekadar hobi.

Keberhasilan Yayuk dan Utut ini secara ekstrem boleh dikata sebuah keberhasilan perjuangan pribadi dengan dukungan segelintir "orang gila", karena bagaimanapun di Indonesia olahraga yang mereka tekuni bukanlah olahraga popular yang bisa mendapatkan dukungan spontan dari para sponsor karena melihat peluang ekonomis yang ada. Keberhasian ini boleh juga disebut keberhasilan dari seorang yang berani menancapkan standar tinggi untuk dirinya, dan mencapainya dengan kerja keras.

Seperti juga Yayuk sekarang, kemungkinan Utut akan menghadapi suatu masa dimana prestasinya seolah mentok, macet, hanya sampai disitu saja. Entah karena kesan yang salah, entah karena memang demikian sikap Yayuk, kita meiihat bahwa ujian yang lebih keras, persaingan yang lebih sengit di tingkat kelas elite dunia ini seolah tidak mampu mengubah "mental melayu atau mental jawa" menjadi lebih membaja, tidak boleh merasa "sudah sampai". Suatu sikap yang berpendirian bahwa di atas langit masih ada langit, seperti pepatah dunia persilatan. Suatu sikap yang mampu melecut diri secara keras tanpa henti.

Mental seperti itu tentu tidak diharapkan dari seorang Utut yang pada salah satu wawancaranya menyatakan bahwa hidup itu survival of the fittest, bahwa hidup itu kompetisi. Rasanya, Utut bukan penganut teori Darwin kuno itu, karena ternyata kompetsi itu jugamenampilkan sebuah harmoni baru. Ini saja sebenarnya sudah menunjukkan bahwa Utut bukan lagi orang melayu atau jawa lama, tapi orang Indonesia Baru. Ujian pertama baru saja dilaluinya, ujian lebih keras masih menghadang panjang dihadapannya. Elo Rating tertinggi di dunia sekarang sudah diatas 2.800. Ini berarti Utut masih harus mengalami pertandingan-pertandingan yang lebih keras lagi, untuk menambah angka peringkatnya sedikit demi sedikit. Kalau angka 2.600 ini diperolehnya dengan perjuangan jatuh-bangun sekitar dua tahun terakhir ini, bisa dibayangkan kerja lebih keras lagi dimasa mendatang.

KEBERHASILAN Utut selanjutnya sedikit banyak mengingatkan kita pada prestasi catur kita yang lain. Catur sebenarnya cukup merakyat, mungkin hampir sama dengan sepak bola. Perlombaan catur di tingkat rukun tetangga pada perayaan hari-hari besar nasional sering diadakan. Pertandingan demi uang juga banyak dijumpai di pinggir jalan, maupun di tengah pasar, hingga ada orang yang mengandalkan hidup kesehariannya dari pertarungan ini. Bakat diakui cukup banyak, bahkan ada suku yang dianggap sebagai gudang pemain catur, seperti suku Batak. Tapi, kenapa kita hanya punya satu Utut?

Gugatan ini sebenarnya berlaku dalam bidang apa saja, karena sudah umum diketahui bahwa bakat saja tak pernah cukup untuk mencapai prestasi tinggi. Dan biasanya kita dengan mudah menyalahkan berbagai pihak, baik itu yang bernama pembinaan yang tak baik, dana, dan lain sebagainya. Semua itu ada kadar kebenarannya. Namun demikian, yang paling inti adalah memancangkan standar tinggi, kerja keras secara sistematik untuk mencapainya, dan tidak mudah menyerah.

 

Sumber: Tajuk Rencana Kompas, Agustus 1995

Mari Berjuang

Demi Rakyat

Berjuang untuk kesejahteraan rakyat, menjadi enyambung lidah suara rakyat

Menuju GM

Catur

Histori permainan Utut Adianto menuju Grandmaster kami rangkum dalam timeline games

LIHAT TIMELINE >>

In The

Press

Kliping berita mengenai Grandmaster Utut Adianto, baik di dalam media cetak maupun online.

SELENGKAPNYA >>