Website Resmi Grandmaster Utut Adianto

Anggota dewan perwakilan rakyat  Komisi X,
dari fraksi PDI Perjuangan

<iframe width="420" height="300" src="https://www.youtube.com/watch?v=ugxyQUl8JO8"> </iframe>

 

GRANDMASTER Internasional Utut Adianto kini bak menunggu durian runtuh. Sarjana ilmu politik jurusan hubungan internasional lulusan Universitas Padjadjaran Bandung, tahun 1989 ini kini hampir masuk ke kelompok pecatur terbaik di dunia. Kalau saja “lulus dan masuk”, maka dia akan diantarkan pada kondisi yang memungkinkan mendapatkan “penghidupan” layak sebagai pemain catur.

Utut Adianto sekarang memiliki Elo Rating 2595, hampir mendekati pecatur-pecatur kelas dunia, yang kalau dibandingkan dengan tenis, hampir masuk 60 besar. Kalau pecatur sudah masuk peringkat itu, tidak hanya mudah mengikuti turnamen berhadiah besar, tetapi juga dibayar sebelum diundang. Jika ia masuk kelompok pecatur elite seperti itu, pengorbanannya sebagai pecatur yang selama ini masih menimbulkan pertanyaan apakah pilihan itu tepat atau salah, tidak sia-sia.

Cukup panjang waktu yang diperlukan Utut untuk bisa mencapai posisi seperti sekarang. Utut mulai main catur ketika berusia 8 tahun, saat duduk di bangku kelas II SD Blok B II Pagi Jl. Sungai Sambas Kebayoran, Jakarta, tahun 1973. Ia masuk klub Kencana pimpinan S Sugianto, ayah penyanyi Iis Sugianto.

Bakat Utut memang besar. Dalam pertandingan antarklub yunior ia selalu jadi ujung tombak tim dan 4 tahun kemudian ia tampil sebagai juara yunior se-Jakarta. Gelar juara yunior nasional direbutnya tahun 1979 dan masih dalam tahun itu juga ia berangkat untuk pertama kalinya ke luar negeri dan menempati peringkat kedua keuaraan dunia untuk usia 16 tahun ke bawah di Puerto Rico. Di sinilah ia kenal dengan Nigel Short dari Inggris yang kini menjadi pecatur kelas utama dunia yang menantang juara dunia Garry Kasparov meski akhirnya kalah.

Sejak itu Utut Adianto sering mengikuti turnamen internasional, dan tahun 1983 ia menempati peringkat delapan kelompok yunior (20 tahun) di Belfort, Perancis. Demikian menonjolnya, pada tahun 1982 ia telah menyandang gelar Master Nasional yang diperolehnya dalam Turnamen Catur Bea Cukai di Jakarta.

Ke Olimpiade Catur ia hanya sekali absen, tahun 1990, itu pun disebabkan kuliah, sejak pertama kali ikut tahun 1982 di Bern, Swiss. Utut mempunyai kenangan masnis di Olimpiade ini karena disinilah dalam pertandingan internasional pertama kelompok senior, ia memperoleh gelas Master FIDE. Gelar Master Internasional didapatnya waktu mengikuti Turnamen Interzona di Laoag, Filipina, tempat kelahiran Marcos, tahun 1985.

Tahun 1986 lewat pertandingan di Olimpiade Catur Dubai sebagai pemain papan kedua ia mendapatkan title ketiga dan tertinggi, Grandmaster. Sekaligus ia tercatat sebagai pecatur Indonesia ketiga yang meraih gelar serupa setelah GM Herman Suradiraja (yang mendapat gelarnya di Eropa Timur) dan H Ardiansyah yang menerima gelar sama di Jakarta.

........

IA melejit seperti meteor, tetapi seperti juga Herman Suradiraja dan H Ardiansyah, gelar ternyata tidak memberikan dampak banyak bagi kehidupan pribadi pemain catur ini. Dalam arti tidak mendatangkan penghasilan tambahan yang mencukupi, alias secara ekonomi hidupnya “pas-pasan” saja.

Februari 1991 Utut menikah Dokter Tri Hatmanti mengubah warna kehidupan Utut dari kehidupan membujang ke sebuah rumah tangga dan berarti juga membebaninya pada tanggung jawab lebih besar. Pemikiran akan tanggung jawab itulah yang membuat Utut sebelum pernikahannya masuk bekerja di Palm Court Condominium, tetapi kemudian ditinggalkannya karena mengganggu karier caturnya.

“Ketika itu pimpinan perusahaan telah memberikan kebebasan yang besar buat saya main catur dan bahkan mendorong untuk lebih maju. Tetapi, tetap saja yang namanya bekerja mengurangkan aktivitas catur saya sehingga ketika itu Elo Rating saya yang tadinya 2525 turun jadi 2470 dalam setahun. Ya saya minta berhenti,” kenang Utut akan pekerjaannya itu.

Utut waktu itu juga menyadari kurangnya kesempatan bertanding di tingkat Internasional. Aibat kurang bertanding ke arena yang pantas baginya, pertandingan internasional yang diikuti pecatur kelas dunia, Utut merasa tak maju-maju. Dunia masih tetap menganggap anak ke-4 dari lima bersaudara anak-anak almarhum Ngatidjo Adiprabowo dan istrinya Haryatin, pecatur kelas biasa saja. Belum pantas diperhitungkan sebab Elo Ratingnya-nya masih saja berkisar antara 2500.

........

TETAPI seperti lirik lagu, bahwa “Tak selamanya mendung itu kelabu”, tahun 1994 pintu bagi Utut terbuka lebar. Dua bersaudara Wirya, Santoso dan Eka Putra, dua pimpinan perusahaan yang masing-masing menyalurkan produksi dari pabrik Makita dan Enerpac  di Indonesia, mengirim Utut ke luar negeri dan mengeluarkan seluruh biaya yang diperlukan baginya untuk mengikuti pertandingan.

Utut berangkat bulan Juni, pertama ke Amerika Serikat mengikuti pertandingan New York Terbuka dan Kejuaraan Dunia Terbuka di Philadelphia. Terus melanglang buana ke beberpa Negara Eropa, termasuk mengikuti Grand Prix PCA di London. Santoso dan Eka memang tidak sia-sia, harapannya agar putra Indonesia ada yang melejit ke tingkat pecatur kelas dunia tampaknya akan tercapai. Dari dua tahap yang diberikan Utut untuk mencapai kenaikan Elo Rating sebanyak 80 angka, baru dalam tahap pertama ia telah peroleh 70.

“Pak Santoso dan Pak Eka adalah orang yang mengerti problem yang dihadapi pecatur. Mereka menghayati benar bahwa untuk menjadi pecatur yang baik itu perlu bertanding dengan pecatur baik di mana pun adanya. Apa yang diberikan keduanya yang sebenarnya sudah saya tunggu sejak saya masih kuliah, sangat berarti,” kata Utut tentang ini.

Kini Utut berada di ambang kemenangan itu. Jika berhasil, ia akan jadi pecatur Indonesia pertama yang masuk kelompok elite dunia dan pertama yang bisa menggantungkan masa depannya pada kehidupan catur. Utut ingin menunjukkan harkat dirinya sebagai pecatur yang disegani. Cirri-ciri ini memang sudah dia tunjukkan sejak lama. Misalnya ketika mengikuti Turnamen Catur Internasional Gunadarma di Hotel Dai-ichi, Jakarta, awal tahun, Utut sangat marah ketika perlakuan untuknya dibedakan dengan layanan yang diberikan pada pecatur asing.

Utut sendiri mengaku kini sedang berada di satu persimpangan. Ada sedikit kekhawatiran apakah bisa menggantungkan masa depan pada catur ataukah ia harus tinggalkan sama sekali dan berkiprah ke bidang pekerjaan. Soalnya, kata Utut, tahun depan atau tepatnya 16 Maret 1995 ia akan genap berusia 30 tahun.

“Pada usia demikian saya harus sampai pada pilihan akhir apakah saya akan meneruskan main catur atau berhenti. Kalau saya tidak juga bisa masuk kelompok pecatur yang baik itu dalam usia 30 tahun, saya tidak perlu menunggu lagi sebab pada usia itulah idealnya untuk jadi pecatur baik. Lebih baik bagi saya berhenti sama sekali. Saya harus mencari pekerjaan lain mencoba cari nafkah di jalur yang normal,” katanya.

Utut mengaku saat ini tingkat kehidupannya biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Tidak kurang tidak lebih. Dengan penghasilan yang diperolehnya dari Sekolah Catur Enerpac sebagai pengajar dan tambahan-tambahan hadiah lain yang ia peroleh, cukup menambah penghasilan istrinya sebagai pegawai negeri di RS Fatmawati. Ia menceritakan, sebenarnya istrinya sangat paham akan jalur kehidupan yang ditekuninya ini.

........

PROGRAM Utut untuk tahun 1995 ini adalah menggunakan waktusedikit yang masih ada dengan sebaik-baiknya untuk berada di dalam kelompok pecatur yang diperhitungkan dunia itu. Ia akan mengikuti dua pertandingan yang undangannya sudah ada padanya. Pertama invitasi Biel Master dari 21 Juli sampai 5 Agustus di Biel, Swis, dan kedua turnamen Interpolis bulan September di Tilburg, Belanda.

Kedua undangan tersebut diterima oleh Utut ketika mengikuti Olimpiade Moskwa, dua pecan lalu. Dari undangan tersebut sudah kelihatan bahwa ia sekarang sudah diperhitungkan sebab yang diundang mengikuti turnamen di Biel hanya 14 pecatur yang Elo Rating-nya diatas 2600. Turnamen itu sendiri dimasukkan kategori 14 yang selama ini belum pernah diikuti Utut.

Selain itu Utut juga telah deprogram oleh Santoso Wirya dan Eka Putra Wirya untuk mengikuti beberapa pertandingan lain sebelum kedua pertandingan tersebut. Kondisi ini membuat Utut sedikit tersenyum, bisa mengatakan bahwa peluangnya untuk masuk kelompok pecatur yang baik itu masih tetap ada.

Menyinggung masalah perkembangan catur nasional ia mengatakan perlunya dilakukan perubahan dalam memandang tujuan pembinaan. Menurut Utut Adianto kita hendaknya jangan hanya mengejar kuantitas dengan menghasilkan sebanyak mungkin pecatur bergelar MF, MI, atau GM, melainkan melahirkan pecatur baik yang bisa menyaingi pecatur terbaik negara manapun.

Untuk itu, katanya, salah satu yang harus diubah adalah kebiasaan memberikan angka alias mengatur hasil pertandingan untuk mengorbitkan seorang pecatur agar berasil mendapat gelar. Sebab apa gunanya kita memiliki banyak pecatur yang bergelar, kalau ia belum pantas menyandangnya. Di tingkat internasional bukan gelar yang jadi ukuran melainkan Elo Rating yang hanya bisa diperoleh lewat kemenangan dalam pertandingan. (Musni Muis)


Sumber: Kompas, 27 Desember 1994

Mari Berjuang

Demi Rakyat

Berjuang untuk kesejahteraan rakyat, menjadi enyambung lidah suara rakyat

Menuju GM

Catur

Histori permainan Utut Adianto menuju Grandmaster kami rangkum dalam timeline games

LIHAT TIMELINE >>

In The

Press

Kliping berita mengenai Grandmaster Utut Adianto, baik di dalam media cetak maupun online.

SELENGKAPNYA >>